Tujuh tahun perjalanan menyebar cahaya Al-Quran.
Dari satu kelas tilawah di Kalisari, hingga jaringan 34 mitra di 12 provinsi. Inilah cerita Yayasan PDALI dan program QMA.
Dari Yayasan Al-Husna ke PDALI.
Pada tahun 2018, ustadz Tri Wahyono bersama beberapa rekan mulai merumuskan sebuah metode pengajaran Al-Quran yang sistematis — menggabungkan kekuatan tradisi pesantren dengan pendekatan kurikulum modern. Lahirlah Quran Metode Ali (QMA), mulanya di bawah Yayasan Al-Husna.
Selama lima tahun pertama, QMA tumbuh sebagai program internal — melayani anak-anak di sekitar Kalisari, melatih guru-guru lokal, dan menerbitkan modul pengajaran ber-ISBN. Permintaan dari luar Jakarta mulai berdatangan.
Pada 2024, didirikanlah Yayasan Pusat Dakwah Al-Quran Lentera Indonesia (PDALI) — entitas legal khusus yang menaungi seluruh ekosistem QMA. Pemisahan ini memungkinkan QMA berkembang sebagai gerakan dakwah yang lebih besar, dengan tata kelola transparan dan struktur yayasan yang independen.
Hari ini, PDALI mengelola QMA sebagai program inti, Akademi Guru, jaringan kemitraan, penerbitan modul, dan berbagai program donasi. Tujuannya satu: memastikan setiap muslim Indonesia memiliki akses ke pengajaran Al-Quran yang berkualitas.
Visi & Misi.
Menjadi institusi pendidikan Quran berbasis teknologi yang menjangkau seluruh muslim Indonesia di tahun 2030.
Setiap muslim memiliki akses ke pengajaran Al-Quran yang sistematis, ber-sertifikasi, dan berkualitas — di mana pun mereka berada.
Empat pilar utama.
- 1.Mengembangkan metodologi pengajaran Al-Quran yang ter-standardisasi & terukur
- 2.Mensertifikasi guru Quran dengan kurikulum jelas dari Pra Tilawah hingga Tahfizh
- 3.Memberdayakan kemitraan untuk perluasan jaringan pengajaran
- 4.Menghimpun & menyalurkan donasi untuk dakwah Quran yang transparan
Mereka yang menjalankan.
Yayasan resmi & ber-akta.
Yayasan PDALI tercatat di Kemenkumham & berbadan hukum penuh.